Welcome

This blog contains something that will hopefully inspire the readers

Selasa, 21 Agustus 2012

Tips Presentasi Sukses Ala Steve Jobs



Pada tanggal 5 Oktober 2011 lalu, dunia sedang dilanda kehebohan. Penyebabnya bukanlah karena ada gedung di New York atau Palo Alto yang kena bom lagi, tapi karena adanya seorang manusia yang baru saja diambil oleh Allah SWT, yakni Steve Jobs. Betul Steve Jobs memang bukanlah seorang muslim, tapi ada begitu banyak kebaikan yang bisa diambil dari CEO Apple satu ini untuk kebaikan semua muslim, khususnya yang ingin jadi pengusaha.
Dan salah satunya adalah cara Steve dalam menyajikan presentasi. Dalam tulisan berikut, penulis mencoba untuk memaparkan beberapa trik yang sering digunakan oleh Steve Jobs dalam memberikan presentasi terkait produk-produk Apple.
Bagi Anda yang doyan mengikuti perkembangan Apple dan produk-produk besutannya seperti iPod, iPhone, iPad, Macbook, dan sejenisnya, Anda pastinya tahu kalau salah satu kunci sukses Apple dalam menjual produk-produk di atas adalah karena keren atau fantastisnya sang CEO dalam mempromosikan barang-barang tersebut di acara peluncurannya.
Tidak jarang, beberapa penonton yang ada di event peluncuran tersebut terkesima luar biasa sampai-sampai tidak keberatan untuk memberikan standing applause yang cukup lama layaknya mereka sedang berada di acara pemberian penghargaan-penghargaan besar seperti penyerahan hadiah nobel atau sejenisnya. Sungguh super!

1. Gunakan theme slide yang sederhana
Dalam setiap aksinya di acara peluncuran produk-produk Apple, Steve tampaknya selalu menggunakan theme slide yang itu-itu saja, yakni slide presentasi dengan warna atasan hitam dengan siluet biru tua di bagian bawah. Tapi, alih-alih membosankan, slide yang sederhana ini justru membantu para audiense untuk memfokuskan diri pada presentasi produk secara keseluruhan.
Dan ini adalah salah satu nilai plus dari Steve Jobs karena ada beberapa speakers di dalam acara peluncuran produk yang justru malah suka dengan tampilan slide yang rame dan menyibukkan mata. Tergantung dari tujuan dan untuk siapa presentasi yang Anda berikan, sebaiknya Anda memberi perhatian khusus untuk masalah ini.

2. Gunakan font yang jelas dan mudah dibaca
Helvetica adalah favorit Steve Jobs, dan begitu juga Apple. Dalam setiap kesempatan presentasinya, Steve tampaknya selalu menggunakan font ini dalam slide-nya. Salah satu keunggulan Helvetica yang sering tidak dijumpai di font lain adalah pada “clarity” atau kejelasannya, baik ketika ditampilkan dalam ukuran yang kecil maupun besar.
Bila Anda adalah seorang amatiran, terkadang Anda tergoda dan tergerak untuk menggunakan font yang terkini dan seaneh mungkin dengan tujuan untuk menarik perhatian pendengar. Padahal ini bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan.

3. Gunakan kata-kata yang bersifat “hiperbola”
Pernahkah Anda mendengar Steve Jobs mengeluarkan kata-kata berikut secara berulang-ulang dalam acara peluncuran produknya; “Amazing”, “Fantastic”, “Awesome”, “Magical”, “Blown me away”, dan sejenisnya. Yup, Anda benar. Steve memang sering sekali menggunakan kata-kata atau ungkapan di atas untuk melukiskan betapa hebatnya fitur yang dimiliki oleh produk besutan Apple.
Dan terkadang kata-kata jenis inilah yang Anda butuhkan untuk menanamkan keyakinan kepada pendengar atau calon pelanggan Anda tentang kehebatan produk Anda. Tentunya dengan harapan bahwa para pendengar itupun nantinya akan meniru-niru Anda ketika menceritakan produk ini kepada teman-temannya. “Oh yeah, this new iPhone just blown me away. I just couldn’t speak no more.”

4. Ulangi dan ulangi lagi
Agar efek kata-kata hiperbolis tadi semakin mengena di hati dan neuron calon pelanggan Anda, jangan sungkan untuk mengatakannya secara berulang-ulang. Agar tidak terkesan membosankan, Steve biasanya mengulangi kata-kata hiperbolis ini dalam rentang waktu sekitar 5 menit atau setelah berakhirnya video atau penjelasan dari partnernya. Cara ini diharapkan mampu menghindari penonton dari rasa bosan gara-gara Anda sering mengulangi kata-kata sakti tadi.
Ingat selalu kata-kata ini: “Amazing”, “Fantastic”, “Awesome”, “Magical”, “Blown me away”. Dalam bahasa Indonesia, kita juga mempunyai padanannya. Tidak percaya? Coba ucapkan kata-kata ini; keren, heboh, menakjubkan, ajaib, aneh tapi nyata, dan luar biasa. Untuk membuatnya lebih “heboh” lagi, Anda tidak dilarang untuk mengganti “luar biasa” menjadi “luuuuuuuuuarrrrr biasa”. Hehehe, “ajaib” bukan?

5. Minimalisir kuantitas teks, maksimalkan di pernyataan
Dalam setiap slide yang Steve tampilkan, pria kelahiran tahun 1955 ini cenderung untuk menggunakan sesedikit mungkin teks. Teks di dalam slide hanya berfungsi sebagai pengingat saja. Sementara penjelasannya ada di dalam kepala dan ujung lidah Steve sendiri. Dengan demikian, penonton pun akan sulit memalingkan perhatiannya dari Steve.
Hal ini berbeda bila Anda menggunakan teks di dalam slide yang tampil dalam porsi besar dan banyak sehingga akan membuat penonton bosan karena mereka menganggap Anda lebih kelihatan seperti orang yang sedang membacakan alih-alih menjelaskan.

6. Merasa hebat, demokan!
Nah ini yang paling utama dalam sebuah peluncuran produk. Dan tampaknya, ini juga yang membuat Apple lebih bernilai ketimbang vendor-vendor lain di dunia teknologi informasi. Ketika Apple mengadakan peluncuran produk, Steve Jobs atau rekannya akan menyuguhkan hiburan tersendiri yang dirangkum bersama demo fitur. Contoh konkritnya terjadi pada tahun 2007 saat iPhone untuk pertama kalinya diluncurkan.

Waktu itu, Steve mendemokan bagaimana iPhone bisa digunakan untuk melihat peta denah alamat kedai makanan dan minuman melalui bantuan Google Maps. Dan asyiknya, Steve mendemokan kepada para penonton bahwa iPhone juga bisa langsung digunakan untuk menelepon kedai tersebut melalui antarmuka yang masih didominasi oleh denah peta kedai tadi.
Lalu apa yang membuat penonton gaduh? Mereka gaduh sambil memberi applause karena Steve memesankan makanan dan minuman untuk orang yang berada dalam gedung tempat acara tersebut dilangsungkan. Wow, tidak heran penonton langsung bersorak gembira. Siapa sih yang tidak gembira diberi makanan dan minuman gratis.

7. Gunakan video
Untuk penjelasan lebih jauh dari fitur-fitur tertentu, Steve Jobs lebih sering menyerahkan tugas ini kepada klip video. Dan ini adalah trik yang sangat bagus karena andai saja sebuah fitur diceritakan terlalu jelas dan dengan sifat “berpanjang lebar”, maka penonton akan bosan dan bisa-bisa ketiduran. Hal ini dicontohkan oleh Steve ketika ia mempresentasikan iPad 2.
Untuk membeberkan dampak apa yang sudah dibuat oleh iPad di seluruh dunia, Steve mempersilahkan penonton untuk menikmati video yang durasinya bisa antara 4 sampai 7 menit.

8. Buat perbandingan
Sebagai perusahaan dengan pengikut-pengikut fanatik, Apple acapkali membuat perbandingan secara eksplisit antara produknya dengan produk buatan vendor lain di depan publik. Salah satu contohnya adalah ketika Steve Jobs memperkenalkan MacBook Air sebagai laptop tertipis di seluruh dunia, Steve tidak takut membanding-bandingkan besutan Apple terbaru itu dengan produk lain yang tidak kalah tipisnya dari vendor teknologi terkemuka lainnya, Sony.
Selama itu bisa dipertanggungjawabkan, saya rasa Anda juga berhak untuk melakukan ini. Tapi ingat, Anda juga harus tahu bahwa Anda tidak perlu mempermalukan produk pesaing Anda di depan pendukung Anda seperti yang sering dilakukan oleh Steve selama ini. Maklum, agaknya kurang islami. Lagipula, tanpa menjelek-jelekkan produk pesaing pun, sebenarnya orang akan cenderung lebih memilih produk kita asalkan itu memang lebih bagus.

9. Jangan ceritakan berita buruk (pun yang biasa-biasa saja)
Selama presentasi dilakukan, Steve Jobs selalu menyebut-nyebut keberhasilan atau pencapaian besar perusahaannya. Jarang atau mungkin bahkan tidak pernah sama sekali seorang Steve menyebutkan berita buruk atau berita “biasa-biasa saja” yang menghinggapi Apple. Contohnya begini, dalam acara peluncuran iPad 2, Steve juga membeberkan bahwa aplikasi iBooks sudah menjadi channel tempat penggunanya untuk mengunduh tidak kurang dari 100 juta buku.
Selain itu, pria yang menyenangi mobil Mercedes dan Porsche ini juga membeberkan bahwa Apple sudah menyimpan kurang lebih 200 juta akun kartu kredit dari anggota-anggotanya di seluruh dunia. Tentu saja, hal-hal seperti ini akan turut membuat pendengar sekaligus calon pelanggan Anda akan semakin bersemangat untuk menjadi bagian dari perusahaan yang Anda bangun.

10. Suruh penonton mencoba sendiri
Dan inilah pentas pamungkas, supaya penonton tadi benar-benar terkesima dan bisa merasakan efek magis barang besutan perusahaan Anda, Anda tidak boleh ragu untuk meminta mereka mencoba langsung produk-produk tersebut. Selama mereka mencoba, biarkan mereka melakukan apa saja selama itu positif seperti menekan-nekan sisi luar produk, mengangkatnya ke atas dan ke bawah, merekamnya dengan video maupun mengambil gambarnya untuk publikasi ulang di blog atau situs milik mereka. Ah, Anda pasti sudah membayangkan sebuah usaha pemasaran gratis bukan?


Son Fisher My Inspiration



To: Nanang, Putra, Agus, Imam, Udin, Syamsul, dan Amri (7 Putra nelayan yang bergelut ditengah deburan ombak)

Salam hangat saudaraku,

Sampah menumpuk, bau menyengat dan tidak seda menyelimuti suasana di Perkampungan Nelayang di daerah Cilincing Jakarta Utara. Hanya sedikit rumah yang terlihat tegak ditengah gubuk bambu yang reot. Riak air laut mengajak saya menghampiri seorang anak kecil yang duduk di dekat jejeran tongkang (istilah perahu). Hendak saya bertanya "De namanya siapa?" Kenapa duduk disini, ayo gabung sama yang lain" : Pengen aja ka disini, saya Nanang ka.." sahutnya. "nama kaka?" tnya de Nanang dengan senyuman khasnya. Dia adalah anak usia 9th dan sekolah disalah satu SD disana meskipun cukup jauh dari rumahnya. Semangat dia untuk belajar sangat tinggi. Terlihat keitka saya bertanya. "kami mau jadi apa kalo udah besar nanti de?" dengan nada semangat dia menjawab "DOKTER KA!!", semngat de Nanang membuat hati ini tertegun dan bergeta. Lantas saya bertanya lagi "kenapa kamu pengen jadi dokter de?" "karena aku pngen bisa ngobatin orang banyak ka"sambutnya dengan lantang/ Kembali saya terharu mendengar pernyataan putra nelayan ini. Sungguh luar biasa semangat anak ini, bak ombak yang menerjang karang. Tidak lama orang tuanya memanggil dia agar segera pulang. Tiba-tiba...... waktu seakan berhenti, laut tak beriak, pohon tak melambai, hati ini seakan menciut begitu saja. Ternyata putra nelayan itu tidak memiliki kaki kanan yang sempurna. Kembali dengan senyuman khasnya, lantas dia berpamitan ditemani dengan tongkat mungilnya. Dan saya hanya bisa terdiam..

Sempat saya bertanya pada masyarakat setempat tentang pendidikan mereka dan ternyata hampir semua anak setelah SD tidak dilanjutkan karena masalah finansial. Setelah lulus SD mereka para putra nelayan membantu ayahnya mencari ikan dan putrinya membantu ibu dirumah. Sungguh prihatin rekan-rekan, mereka tidak bisa mengenyam pendidikan yang layak seperti kita. Kita sebagai insan muda seharusnya lebih bersyukur lagi karena kita masih diberi kesempatan menikmati dunia pendidikan. Tapi kita sebagai intelektual jangan sampai men-sia-siakan kesempatan baik ini. Apalah jadinya ketia mereka yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak melihat kita para Agent Of Change tidak bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan bijak. Maka jangan sia-siakan kawan!!


Pen

Teringat ucapan teman SMA saya dulu bahwa menulis itu menyenangkan saya mencoba terjun di dunia Pena. Padatnya perkuliahan tidak membuat saya kehilangan celah untuk menulis. Berawal dari sebuah UKM sebut saja MARS Project (Mapres And Research School Project). UKM ini dibuat untuk mencetak para mahasiswa berprestasi yang tentunya diharapkan bisa mengharumkan nama kampus perjuangan, kampus Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Disini saya belajar bagaimana menulis yang baik, presentasi yang oke, debat yang berkualitas dsb. Ketertarikan saya ini direspon oleh teman saya Ka Ineu. Dia adalah Mapres PNJ tahun 2011. Dalam hal menulis khususnya karya tulis ilmiah saya didampingi dia pada waktu training. Tiba saatnya, ada kabar dari Ka Ineu tentang LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) di UNNES Semarang. Meskipun baru pertama kali ikut lomba KTI, tapi dengan semangat tinggi saya tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Diputuskanlah saya akan ikut kegiatan ini dengan tim saya Mulyani Pratiwi (Teknik Telekomunikasi) dan Niken Ari P (Teknik Grafika & Penerbitan). Judul yang kami angkat adalah Aplikasi Radio Frequency Identification (RFID) sebagai Attendance Detection (ADE) untuk Efisiensi dan Validitas Transparansi Absensi di Perguruan Tinggi Berbasis Mikrokontroler ATMEGA 16. Dan alhmdulillah dengan judul ini lah kami lolos ke babak final dah harus berangkat ke Semarang. Babak final ini lah yang menentukan semuanya. Orang-orang hebat duduk disekeliling kami, dari ITS, UNS, UNY,UNNES dan hanya kami dari politeknik yaitu PNJ. Tapi rasa panas kami justru membakar semangat kami untuk berlomba. Presentasi-presentasi yang hebat di perlihatkan para peserta seakan tak ingin kalah bersaing. Perlahan tapi pasti itulah tim kami sebut saja tim awam. Karena kami baru merasakan arena lomba ini. Kata "Percaya Diri" ada pada diri kami meskipun kami berada di antara teman-teman S1... Dan pada akhirnya ketiga juri mengacungi jempol untuk karya kami. Alhmdulillah kami dipercaya untuk menduduki peringkat 3, disusul dengan UNNES peringkat 2, dan Sang Juara UNY peringkat 1.

Nice Experince


Sekitar 2 tahun lalu, berawal dari sebuah obrolan umumnya seorang guru (tengah) kepada saya (ke-2 dari kiri) pada waktu itu di meja bundar tepat ketika bel istirahat berdentang. Obrolan cukup lama bahkan terkesan ngaler ngidul membuat mahasiswa Pascasarjana jebolan UI ini  terlihat lebih akrab dengan saya. Sebut saja Pa Eris, beiliau seorang guru sekaligus teman curhat buat saya. Setelah lulus Pascasarjana di UNPAK Bogor, beliau melanjutkan ke UI. Singkat cerita beliau bercerita tentang tesis nya, saya pun tertarik dan antusias mendengarnya apalagi ketika beliau mengajak saya untuk ikut ke lapangan (penelitian). Senang sekali rasanya bisa di ajak meskipun sebenernya saya hanya siswa biasa saja waktu itu...............................
******
Tiba pada waktunya, kami pun siap berangkat,.. sebentar ada yg lupa.. ternyata kami tidak berdua kami ditemani para survival dari Biologi UPI. Mereka adalah A yayan (Kiri), A Fauzi (Kanan),dan A Regi (ke-2 dari kanan). Kenapa saya beri julukan para survival?? Karena mereka sangat giat melakukan aktivitas alam khususnya mendaki. Semeru, Mahameru, G.Gede, dll sudah mereka jajaki.. belum saja Mount Everest,.haha. Akses ke Dusun Ciptagelar cukup jauh dan ekstrim jadi kami memutuskan menggunakan mobil jeep (R*C*Y), mobil yang sudah di design buat track-track  yang ekstrim. Perjalanan memakan waktu sampai 11 jam. Track-track yang sangat ekstrim ditambah jurang-jurang yang dalam melengkapi perjalanan kami. Tapi terbalas sudah rasa cape kami dengan pemandangan ini.. subhanallah..
Awesome! itu kata2 yg pertama kali terucap ketika tiba disana. Alam yang masih original memberikan ketertarikan tersendiri. Tak ingin menyia-nyiakan waktu saya mulai berjalan menikmati keindahan Dusun Ciptagelar di bawah Mega Biru yang indah. Sapaan hangat dari penduduk setempat membawa saya kesebuah gubuk bambu dengan ukiran jawa yang khas. Cengkrama antara kami memberikan kehangatan tersendiri ditengah dinginnya angin lembah yang berhembus. Sungguh ramah penduduk di dusun ini.. Kami melakukan penelitian selama 7 hari di dusun ini.. meskipun saya hanya sebagai asisten tapi kebanggaan tersendiri saya bisa mendapatkan pengalaman ini. Satu hal ternyata meskipun hidup di pelosok teknologi tetap berkembang di dusun ini, bukti nyata.. Sebagian dusun ini sudah di lengkapi dengan HotSpot.